Potensi Pariwisata Kota Sibolga dan Pantai Barat Sumatera Utara

Kota yang terletak di tepi pantai Barat Pulau Sumatera ini mempunyai jumlah penduduk 3.397.093 jiwa. Kota Sibolga memiliki daerah Hinterland, seperti Kab. Tapanuli Tengah, Kab. Humbang Hasundutan, Kab. Tapanuli Utara, Kab. Tapanuli Selatan, Kab. Padang Lawas, Kab. Padang Lawas Utara, Kota Padang Sidempuan, Kab. Mandailing Natal, Kab. Toba Samosir, Kab. Samosir, Kab. Nias, Kab. Nias Selatan, Kab. Nias Utara, Kab. Nias Barat, Kota Gunung Sitoli, Kab. Aceh Singkil, Kota Subulusallam dan Kab. Simeulue yang dikenal dengan perikanan dan perkebunan nya. Hinterland adalah daerah yang berfungsi sebagai pemasok dan pemenuhan kebutuhan bahan makanan pokok atau daerah pendukung dari sebuah kota.

Untuk mencapai Kota Sibolga, misalnya dari Medan itu berjarak 343 km atau sekitar 9 jam perjalanan naik mobil, kalau dari Singkil berjarak 192 Km atau 4,5 jam, dari Parapat jaraknya 170 km atau sekitar 4 jam dan dari Tapanuli Selatan berjarak 87,6 km atau sekitar 2 jam perjalanan. Sedangkan kalau ke Gunung Sitoli melalui jalur laut itu kurang lebih 8 jam dengan jarak tempuh 156 km dan dari Sinabang dengan jalur laut sejauh 281 km dengan estimasi perjalanan 12 jam. Kalau naik pesawat dari Jakarta sekitar 2 jam 10 menit (direct flight).

SEJARAH

Kota Sibolga dahulunya merupakan Bandar kecil di Teluk Tapian Nauli dan terletak di Poncan Ketek. Pulau kecil ini letaknya tidak jauh dari kota Sibolga yang sekarang ini. Diperkirakan Bandar tersebut berdiri sekitar abad delapan belas.

Kemudian pada zaman pemerintahan kolonial Belanda, pada abad sembilan belas didirikan Bandar Baru yaitu Kota Sibolga yang sekarang, karena Bandar di Pulau Poncan Ketek dianggap tidak akan dapat berkembang. Disamping pulaunya terlalu kecil juga tidak memungkinkan menjadi Kota Pelabuhan yang fungsinya bukan saja sebagai tempat bongkar muat barang tetapi juga akan berkembang sebagai Kota Perdagangan. Akhirnya Bandar Pulau Poncan Ketek mati bahkan bekas-bekasnya pun tidak terlihat saat ini. Sebaliknya Bandar Baru yaitu Kota Sibolga yang sekarang berkembang pesat menjadi Kota Pelabuhan dan Perdagangan.

Pada zaman awal kemerdekaan Republik Indonesia, Kota Sibolga menjadi ibukota Keresidenan Tapanuli di bawah pimpinan seorang Residen dan membawahi beberapa “Luka atau Bupati”. Pada zaman revolusi fisik Sibolga juga menjadi tempat kedudukan Gubernur Militer Wilayah Tapanuli dan Sumatera Timur Bagian Selatan, kemudian dengan dikeluarkannya surat keputusan Gubernur Sumatera Utara Nomor: 102 Tanggal 17 Mei 1946, Sibolga menjadi Daerah Otonom tingkat “D” yang luas wilayahnya ditetapkan dengan Surat Keputusan Residen Tapanuli Nomor: 999 tanggal 19 November 1946 yaitu Daerah Kota Sibolga yang sekarang. Kemudian dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor: 19 Tahun 1979 tentang pola dasar Pembangunan Daerah Sumatera Utara, Sibolga ditetapkan Pusat Pembangunan Wilayah I Pantai Barat Sumatera Utara. Perkembangan terakhir yaitu dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Daerah Nomor: 4 Tahun 2001, tentang Pembentukan Organisasi Kantor Kecamatan, Sibolga dibagi menjadi 4 (empat) Kecamatan, yaitu: Kecamatan Sibolga Utara, Kecamatan Sibolga Kota, Kecamatan Sibolga Selatan, dan Kecamatan Sibolga Sambas.

Kota ini pada masa lampau menjadi pusat dagang antar pulau bahkan ekspor dengan hasil alam seperti kapur barus, kemenyan dan rempah – rempah. Sejarah mencatat penyebaran Islam di nusantara pertama kali ada di pesisir kota ini, tepatnya di Barus, Tapanuli Tengah. Jejak Islam sudah ditemukan sejak abad ke-6 Masehi. Jika merujuk pada kelahiran Nabi Muhammad SAW pada abad ke-5 M, berarti usia Islam di Barus kurang lebih 3 generasi sejak Islam diajarkan Nabi Muhammad SAW. Berbagai literatur tentang sejarah perkembangan Islam, khususnya di Sumatera, kata “Barus”, dengan banyak istilah dan penyebutannya, sering disebut-sebut. Antara lain, dalam buku “Sejarah Raja-Raja Barus” karangan Jane Drakard, Begitu juga dalam “The History of Sumatera” karya William Marsden (1754-1836) yang diterbitkan tahun 1784.

Bahkan kehidupan masyarakat Islam di Barus juga pernah dilaporkan Marcopolo, yang sempat singgah di Barus pada abad ke-12. Barus juga tercatat dalam literatur Arab, India, Tamil, Yunani, Syiria, Armenia, China, dan lainnya pada awal abad Masehi. Tidak heran, Barus merupakan gerbang utama yang menghubungkan dunia luar menuju Sumatera melalui pesisir pantai barat, sejak abad 1 – 17 M. Seperti dijelaskan di atas kala itu, Barus terkenal karena kekayaan alamnya yang luar biasa, terutama hasil-hasil hutan, antara lain kapur barus dan kemenyan.

POTENSI PARIWISATA
Kota Sibolga mempunyai beberapa infrastruktur pendukung pariwisata antara lain Bandara FL Tobing, Pelabuhan serta transportasi Antar Kota Antar Provinsi dan Antar Kota Dalam Provinsi.

Sebagai daerah tujuan wisata, kota ini mempunyai 1 hotel bintang 1, tiga hotel bintang 2, 19 hotel non bintang, 15 tour & travel, serta puluhan rumah makan.

Pada tahun 2017 kota Sibolga mendapat kunjungan 332 tamu asing yang di dominasi wisman dari Asia lalu diikuti Oceania, Eropa, Amerika dan Afrika.

Berikut beberapa daerah tujuan wisata di Kota Sibolga dan sekitarnya antara lain yaitu Pulau Poncan, Pulau Mursala yang terkenal sebagai tempat shooting film Kingkong pada tahun 2005, Pulau Putri, Pantai Binasi dan Pantai Pandan dsb. Untuk wisata religi bisa menyusuri jejak peradaban Islam di Barus yaitu Makam Mahligai, Makam Papan Tinggi serta Monumen Titik Nol penyebaran Islam di Nusantara. Wisata Sejarah benteng Jepang di Bukit Ketapang serta Bukit Tor Simarbarimbing, Tangga Seratus dan kuliner hidangan laut dapat menjadi piihan lain.

POTENSI PENGEMBANGAN PARIWISATA

Berikut adalah beberapa potensi yang dapat dikembangkan untuk menunjang aktifitas wisata antara lain sbb:

• Pembangunan Resort & Hotel berbintang
• Pembangunan Jetty di pulau
• Fasilitas Snorkeling & Diving
• Wisata Pantai & Olahraga Air
• Wisata Kuliner
• Wisata Religi
• Atraksi Wisata
• Desa Wisata/ Kampung Nelayan
• Event internasional

HAMBATAN

Berikut beberapa hambatan terkait pengembangan pariwisata:

• Perluasan bandara dan lintasan
• Akomodasi
• Konektivitas jalur udara Sibolga – Nias – Silangit dan sekitarnya
• Konektivitas Jalur laut Sibolga-Danau Toba-Nias
• Konektivitas Jalur Laut Jakarta – Padang – Sibolga – Nias
• Infrastruktur di Pulau
• Jalan Tol Tebing Tinggi – Parapat – Sibolga.

Semoga hambatan di atas dapat diselesaikan dan pertumbuhan pariwisata nanti dapat menjadi akselerator pertumbuhan ekonomi masyarakat.

– Jakarta, 12 Mei 2019 –

Advertisements