Analisa Industri Pariwisata di Indonesia

Tulisan ini sejujurnya untuk menyelesaikan tugas take home UTS  Analisa Lingkungan Bisnis tapi karena penulis punya blog yang serupa isinya, maka di masukkan kesini hehehhe

Latar Belakang Industri Pariwisata di Indonesia

Kita telah mengetahui bahwa kebutuhan wisatawan ini dilayani oleh beberapa perusahaan yang berbeda fungsi dan proses pelayanannya. Perusahaan-perusahaan yang dimaksud ialah perusahaan biro perjalanan, perusahaan angkutan, perusahaan penginapan, Bar & Restoran dan yang berkaitan dengan aktivitas wisatawan.

Keseluruhan perusahaan inilah yang disebut industri pariwisata. Dari uraian diatas dapatlah dibuat batasan industri pariwisata sebagai berikut, industri pariwisata adalah kumpulan dari berbagai ragam bidang usaha yang secara bersama-sama bertujuan untuk memproduksi barang atau jasa-jasa yang dibutuhkan oleh wisatawan semenjak ia berangkat dari rumah, selama dalam perjalanan, selama berada di tempat objek wisata hingga kembali ke rumah.

Meskipun Indonesia memiliki tempat-tempat menarik untuk pariwisata – wilayah pedalaman yang indah, reruntuhan budaya dan sejarah yang menarik, pantai-pantai, kehidupan malam (Jakarta dan Bali), dan banyak lagi – negara ini gagal menarik jumlah turis asing yang besar. Memang betul bahwa Indonesia mungkin mencapai targetnya untuk menyambut 10 juta turis asing di 2015, namun angka ini jauh lebih rendah dari jumlah turis yang mengunjungi negara-negara tetangga Singapura (15 juta) atau Malaysia (27 juta). Indonesia tidak kalah cantik ataupun menarik. Jadi, apa yang telah menghambat pertumbuhan yang lebih cepat di sektor pariwisata Indonesia ?

Penting bagi industri pariwisata Indonesia untuk meningkatkan kontribusinya pada produk domestik bruto (PDB) karena hal ini akan memicu lebih banyak pendapatan devisa (karena setiap turis asing menghabiskan rata-rata antara 1.100 dollar AS sampai 1.200 dollar AS per kunjungan) dan juga menyediakan kesempatan kerja untuk masyarakat Indonesia (berdasarkan data terakhir dari Badan Pusat Statistik, tingkat  pengangguran di negara ini mencapai 5,81% di Februari 2015). Diperkirakan bahwa hampir 9% dari total angkatan kerja nasional dipekerjakan di sektor pariwisata.

Saat ini, sektor pariwisata Indonesia berkontribusi untuk kira-kira 4% dari total perekonomian. Pada tahun 2019, Pemerintah Indonesia ingin meningkatkan angka ini dua kali lipat menjadi 8% dari PDB, sebuah target yang ambisius yang mengimplikasikan bahwa dalam waktu 4 tahun mendatang, jumlah pengunjung perlu ditingkatkan dua kali lipat menjadi kira-kira 20 juta. Dalam rangka mencapai target ini, Pemerintah akan berfokus pada memperbaiki infrastruktur Indonesia (termasuk infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi), akses, kesehatan & kebersihan dan juga meningkatkan kampanye promosi online (marketing) di luar negeri. Pemerintah juga merevisi kebijakan akses visa gratis di 2015 untuk menarik lebih banyak turis asing.

  1. Analisa Industri Pariwisata dari Biro Perjalanan Wisata dengan Porter Five Forces

Seperti namanya, Porter’s Five Forces Analysis ini mengunakan 5 Kekuatan Industri untuk menentukan intensitas persaingan dalam suatu industri. Berikut ini adalah kelima Kekuatan menurut Michael Porter atau lebih dikenal dengan Porter’s Five Forces Analysis.

  1. Threat of New Entrants (Hambatan Bagi Pendatang Baru)

Kekuatan ini menentukan seberapa mudah (atau sulit) untuk masuk ke industri tertentu. Jika Industri tersebut bisa mendapatkan profit yang tinggi dengan sedikit hambatan maka pesaing akan segera bermunculan. Semakin banyak perusahaan saingan (kompetitor) yang bersaing pada market yang sama maka profit atau laba akan semakin menurun. Sebaliknya, semakin tinggi hambatan masuk bagi pendatang baru maka posisi perusahaan kita yang bergerak di industri tersebut akan semakin diuntungkan.

Beberapa hambatan bagi para pendatang baru seperti Biro Perjalanan Wisata atau Travel Agent Konvensional diantaranya adalah sebagai berikut:
– Memerlukan dana atau modal yang besar untuk memulai suatu bisnis ataupun sebagai modal untuk klien yang melakukan pembayaran di beakang
– Teknologi yang tinggi yang harus menyesuaikan dengan Digitalisasi Industri Pariwisata serta pemain lain yang murni online.
– Hak Paten, Merek dagang yang Brandable
– Skala Ekonomi yang memaksa pendatang baru harus memikul biaya tinggi seperti produksi, Pemasaran, Riset, Layanan serta Distribusi
– Loyalitas Pelanggan harus di miliki , kalau tidak harus perang untuk mendapatkan pelanggan tetap
– Kebijakan Pemerintah dalam hal ini adalah keseriusan pemerintah daerah dan pemerintah pusat dalam menyediakan infrastruktur pendukung untuk Industri Pariwisata

2. Bargaining power of Suppliers (Daya Tawar Pemasok)

Daya tawar pemasok yang kuat memungkinkan pemasok untuk menjual bahan baku pada harga yang tinggi ataupun menjual bahan baku yang berkualitas rendah kepada pembelinya. Dengan demikian, keuntungan perusahaan akan menjadi rendah karena memerlukan biaya yang tinggi untuk membeli bahan baku yang berkualitas tinggi. Sebaliknya, semakin rendah daya tawar pemasok, semakin tinggi pula keuntungan perusahaan kita.
Daya tawar pemasok menjadi tinggi apabila hanya sedikit pemasok yang menyediakan bahan baku yang diinginkan sedangkan banyak pembeli yang ingin membelinya, hanya terdapat sedikit bahan baku pengganti ataupun pemasok memonopoli bahan baku yang ada.

Airlines menjual tiket dengan harga yang sudah tinggi di karenakan biaya avtur serta komponen biaya lainnya yang semakin tinggi salah satunya adalah pajak spare part pesawat yang di tetapkan pemerintah turut membebani airlines sehingga dampaknya ke harga tiket pesawat di Indonesia. Biro perjalanan kerap menjual dengan margin yang tipis apalagi harus bersaing dengan Biro Perjalanan sejenis yang memungkinkan pembeli dapat langsung akses, belum lagi airlines juga menawarkan fasilitas pembelian secara langsung di website mereka.

3.Bargaining power of buyers (Daya Tawar Pembeli)

Kekuatan ini menilai daya tawar atau kekuatan penawaran dari pembeli/konsumen, semakin tinggi daya tawar pembeli dalam menuntut harga yang lebih rendah ataupun kualitas produk yang lebih tinggi, semakin rendah profit atau laba yang akan didapatkan oleh perusahaan produsen. Harga produk yang lebih rendah berarti pendapatan bagi perusahaan juga semakin rendah. Di satu sisi, Perusahaan memerlukan biaya yang tinggi dalam menghasilkan produk yang berkualitas tinggi atau memang harga sudah tinggi dari Distributor. Sebaliknya, semakin rendah daya tawar pembeli maka semakin menguntungkan bagi perusahaan kita. Daya tawar pembeli tinggi apabila jumlah produk pengganti yang banyak, banyak stok yang tersedia namun hanya sedikit pembelinya.

4.Threat of substitutes (Hambatan bagi Produk Pengganti)

Hambatan atau ancaman ini terjadi apabila pembeli/konsumen mendapatkan produk pengganti yang lebih murah atau produk pengganti yang memiliki kualitas lebih baik dengan biaya pengalihan yang rendah. Semakin sedikit produk pengganti yang tersedia di pasaran akan semakin menguntungkan perusahaan kita.  Moda transportasi lain sebagai produk pengganti transportasi udara juga sudah tersedia untuk destinasi tertentu seperti misalnya Lampung, Bandung, bisa di capai dengan bis atau kapal laut. Untuk Produk pengganti di Industri Pariwisata ini tidak terlalu signifikan nampaknya.

 

 5.Rivalry among existing competitors (Tingkat Persaingan dengan Kompetitor)

Kekuatan ini adalah penentu utama, perusahaan harus bersaing secara agresif untuk mendapatkan pangsa pasar yang besar. Perusahaan kita akan semakin diuntungkan apabila posisi perusahaan kita kuat dan tingkat persaingan pada pasar (Market) yang sama tersebut yang rendah. Persaingan semakin ketat akan terjadi apabila banyak pesaing yang merebut pangsa pasar yang sama, loyalitas pelanggan yang rendah, produk dapat dengan cepat digantikan dan banyak kompetitor yang memiliki kemampuan yang sama dalam menghadapi persaingan. Tingkat persaingan antar sesama Biro Perjalanan Wisata sudah demikian ketat bahkan banyak Biro Perjalanan Wisata yang tutup karena kalah bersaing dengan Biro Perjalanan Online. Hanya Biro perjalanan wisata yang kreatif, bermodal besar serta mengikuti perkembangan zaman (digitalisasi) yang dapat survive sampai sekarang.

 

  1. Analisa Industri Pariwisata dengan framework PESTEL

Analisis PESTEL adalah suatu teknik dalam manajemen strategis yang digunakan untuk melihat faktor-faktor lingkungan luar/eksternal bisnis yang berpengaruh terhadap suatu hal (perusahaan, proyek, masalah, dan lain-lain).

Faktor-faktor tersebut meliputi bidang : Political, Economic, Social, Technological, Legal, dan Environment.

1) Political
Faktor politik meliputi hukum yang berlaku, kebijakan pemerintah, dan aturan formal atau informal di lingkungan perusahaan Contoh : Peraturan Pemerintah, Peraturan Daerah dan Passion dari sang pemimpin sangat menentukan berkembangnya Industri Pariwisata di suatu daerah. Dalam   rangka   mendukung   perkembangan   dan   pertumbuhan   industri pariwisata Indonesia serta untuk menambah pendapatan devisa negara, pemerintah mengeluarkan   Peraturan   Presiden   Republik   Indonesia   Nomor   69   Tahun   2015 tentang Bebas Visa Kunjungan bagi orang asing warga negara dari negara tertentu dibebaskan dari kewajiban memiliki visa kunjungan untuk masuk wilayah Indonesia dalam   rangka   kunjungan   wisata.   Dengan   bertambahnya   jumlah   negara   yang mendapatkan fasilitas bebas visa tersebut menjadi 174 negara, diharapkan kunjungan wisatawan   ke   Indonesia   pun   akan   meningkat.   Jika   tahun   2015   ini   kunjungan Wisman baru mencapai 4,12 juta orang, maka pada tahun 2018 diharapkan menjadi 8,06 hingga 10,8 juta orang.

Banyak faktor-faktor lain yang harus dipertimbangkan oleh pemerintah untuk

meningkatkan pertumbuhan wisata selain aspek kebijakan bebas visa kunjungan tersebut. Seseorang yang berkunjung ke suatu negara atau daerah memiliki alasan tertentu  dan bukan hanya karena  bebas visa, tetapi karena wisatawan   memiliki keinginan untuk melihat dan merasakan sesuatu di negara atau daerah tersebut, seperti keindahan alam, keunikan budaya, kenyamanan, keamanan, dan hal lainnya.

Namun, pemberlakuan kebijakan tersebut juga pasti berdampak terhadap dunia usaha biro perjalanan wisata baik level nasional maupun daerah. Dengan kebijakan tersebut yang membebaskan visa kunjungan wisatawan asing dapat menguntungkan biro perjalanan karena banyak wisatawan asing yang berkunjung serta menggunakan jasa Biro Perjalanan Wisata.

 

2). Economic
Faktor ekonomi meliputi semua faktor yang mempengaruhi daya beli dari customer dan mempengaruhi iklim berbisnis suatu perusahaan (Contoh : standar nilai tukar, suku bunga, dan pertumbuhan ekonomi). Pertumbuhan   ekonomi   Indonesia   menunjukkan   perubahan   yang   positif sejak tahun 2000 serta memunculkan masyarakat kelas menengah. Pada 3003 jumlah penduduk dengan pendapatan kelas menengah di Indonesia hanya 37,7 persen dari populasi. Namun pada 2010 kelas menengah di Indonesia mencapai 134 juta jiwa atau 56,5 persen dari populasi. Setiap tahun kelas menengah di Indonesia tumbuh sebanyak tujuh juta. Peningkatan kelas menengah yang terjadi di Indonesia juga dialami negara berkembang lainnya. Pertumbuhann ini menyebabkan melonjaknya konsumsi yang mendorong pertumbuhan ekonomi. Masyarakat   Indonesia   telah   menjadikan   berwisata   menjadi   bagian   dari kebutuhan. Tidak hanya bagi kelompok ekonomi kelas atas, tetapi masyarakat kelas menengah   dan   bawah   mulai   memandang   pentingnya   wisata   sebagai  rekreasi bersama keluarga. Kecenderungan meningkatnya kebutuhan berwisata masyarakat Indonesia   tergambar   dari   meningkatnya  tren  wisatawan  Nusantara  satu  dekade terakhir. Menurut Erianto (2015), jumlah wisatawan domestik pada tahun 2014 mencapai 251 juta orang, yang artinya jumlah orang Indonesia yang melakukan perjalanan  ke   tempat   wisata  jumlahnya   mendekati   jumlah  penduduk  Indonesia. Secara   umum  peningkatan  perjalanan   wisata   ini  disebabkan   oleh   pertumbuhan ekonomi dan perbaikan akses dan infrastruktur. Dengan   demikian   semakin   bertumbuhnya   perekonomian   penduduk indonesia maka akan berdampak positif terhadap pertumbuhan industri pariwisata. Hal tersebut akan menguntungkan bagi Industri Pariwisata, karena akan semakin banyak   penduduk   atau   masyarakat   dari   berbagai   kelas   ekonomi   yang   akan melakukan perjalanan wisata. Industri Pariwisata   mendapatkan   peluang   yang   sangat   besar   karena pertumbuhan ekonomi yang terjadi saat ini. Dan juga bertumbuhnya masyarakat kelas menengah atas yang menjadikan perjalanan wisata merupakan salah satu hal wajib yang perlu dilakukan. Biro Perjalanan Wisata akan mudah mendapatkan konsumen yang ingin berwisata dengan menawarkan pilihan objek wisata yang baru dari objek wisata yang lain.

 

3) Social
Faktor sosial meliputi semua faktor yang dapat mempengaruhi kebutuhan dari pelanggan dan mempengaruhi ukuran dari besarnya pangsa pasar yang ada (Contoh : tingkat pendidikan masyarakat, tingkat pertumbuhan penduduk, kondisi lingkungan sosial dan lingkungan kerja). (Tren perkembangan kehidupan sosial budaya terkait dengan produksi dan konsumsi pariwisata) Pariwisata merupakan suatu kegiatan yang secara langsung melibatkan masyarakat lokal, sehingga membawa beberapa manfaat dan dampak terhadap masyarakat lokal. Melalui interaksi antar penduduk lokal di tempat wisata tersebut   dan   para   wisatawan   yang   datang   akan   memberikan   pengertian   dan pemahaman antar budaya. Dari hal tersebut para wisatawan dapat mengenal budaya dan mengetahui sejarah penduduk lokal, serta dapat menghargai budaya masyarakat lokal.

Namun selama ini dampak negatif yang sering diasumsikan dari pariwisata

terhadap   sosial   budaya   adalah   perubahan   sosial   budaya   akibat   kedatangan wisatawan. Tetapi dampak negatif terdebut akan berpengaruh jika tidak adanya penyaringan terhadap kedatangan wisatawan, dan cara dan pola pikir masyarakat itu sendiri.

Untuk memecahkan dampak dari pariwisata terhadap sosial budaya yaitu

dengan   mengedepankan   pembangunan   pariwisata   secara   holistik  yang   meliputi agama, adat, budaya, sosial, ideologi, politik, ekonomi dan teknologi. Selain itu perlu dikembangkan juga pembangunan pariwisata berkelanjutan dimana usaha ini menjamin sumber daya alam, sosial dan budaya yang dimanfaatkan sebagai sumber pembangunan pariwisata dewasa ini yang dilestarikan untuk generasi mendatang.

Menghormati keaslian sosial budaya masyarakat setempat, melestarikan nilai-nilai warisan   budaya   dan   adat   yang   mereka   bangun,   dan   berkontribusi   untuk meningkatkan rasa toleransi serta pemahaman antar-budaya.

4) Technological
Faktor teknologi meliputi semua hal yang dapat membantu dalam menghadapi tantangan bisnis dan mendukung efisiensi proses bisnis perusahaan (Contoh : penemuan dan pengembangan baru, biaya dan penggunaan teknologi, perubahan dalam ilmu pengetahuan, dan dampak dari perubahan teknologi). Perkembangan dunia teknologi informasi yang ditandai dengan penggunaan internet   yang   meningkat   dapat   dimanfaatkan   dengan   sebaik-baiknya   dalam pengembangan dunia kepariwisataan di indonesia. Pemanfaatan teknologi informasi ini memudahkan informasi bagi para wisatawan untuk mengetahui tentang objek-objek wisata dengan sarana dan prasarana pendukungnya seperti informasi tentang rute, jarak, biaya dan moda yang dapat digunakan untuk mencapai suatu lokasi wisata.   Dan   juga   dengan   perubahan   dan   perkembangan   teknologi   informasi memudahkan   industri   pariwisata   untuk   mendapatkan   informasi   melalui   akses internet. Melalui media internet industri pariwisata dapat dengan mudah dan cepat melakukan proses transaksi. Calon konsumen tidak perlu datang ke kantor ataupun menghubungi melalui telepon, hanya dengan duduk di depan komputer ataupun melalui  smartphone, mereka dapat dengan mudah melakukan transaksi pembelian paket wisata yang diinginkan. Teknologi informasi ini memberikan manfaat bagi jasa biro perjalanan dan pengguna jasa biro perjalanan. Teknologi   merupakan   salah   satu   pendukung   dalam   tren   berwisata.

Teknologi mempermudah para  wisatawan untuk memenuhi  perlengkapan dalam melakukan perjalanan wisata. Dengan duduk di depan komputer ataupun bersantai dengan gadget, masyarakat bebas menentukan dan memilih destinasi, memesan tiket transportasi untuk pergi dan pulang, serta memilih dan menyiapkan akomodasi yang akan digunakan ditempat wisata yang menjadi tujuan.

Bisnis e-commerce di Indonesia akan berkontribusi signifikan dalam lima

tahun ke depan, terlebih pada tahun 2017. Karena saat itu generasi Y yang saat ini belum memiliki penghasilan karena masih kuliah, akan sudah memiliki pekerjaan dan lebih banyak berbelanja untuk berpergian. Kelompok masyarakat yang disebut sebagai millenial travelers tersebut pada saat ini tercatat sekitar 1,75 miliar jiwa di seluruh dunia, dan 64 juta jiwa di antaranya berada di Indonesia. Sementara itu, pengguna internet di seluruh dunia pada 2015 mencapai 100 juta jiwa, dan 30% di antaranya merupakan pasar yang cocok untuk pemasaran travel secara online karena memanfaatkan internet lebih dari 3 jam per hari Sehingga potensi pasarnya akan sangat besar bagi Biro Perjalanan Wisata untuk mengembangkan   bisnis biro   perjalanan   dengan   berbasis e-commerce,   di   mana para millenial generation sudah akrab dengan perangkat mobile dan transaksi online. Pertumbuhan transaksi melalui  e-commerce  sudah mulai terlihat, dan dalam tiga tahun ke depan diprediksi akan mendominasi penjualan tiket, hotel dan paket tur.

 

5) Environment
Faktor lingkungan dapat digunakan ketika melakukan perencanaan strategis atau mencoba mempengaruhi keputusan pembeli seperti faktor lokasi geografis. Industri pariwisata memiliki hubungan erat dan kuat dengan lingkungan fisik, karena lingkungan fisik merupakan daya tarik utama dari kegiatan wisata.

Lingkungan fisik yang dimaksud adalah bentangan alam, flora dan fauna, gejala alam,   peninggalan   sejarah,   situs   kebudayaan,   wilayah   pedesaan,   dan   wilayah perkotaan.   Hubungan   lingkungan   alam   dengan   pariwisata   harus   saling menguntungkan dan bermanfaat, yaitu wisatawan dapat menikmati keindahan alam dan memberikan materi yang digunakan untuk memelihara lingkungan pariwisata tersebut.

Namun   hubungan   lingkungan   alam   dan   pariwisata   tidak   selalu   saling menguntungkan dan memberikan manfaat. Contoh yang terjadi adalah kerusakan yang ditinggalkan di  kebun bunga  Amarylis di Patuk  Gunungkidul Yogyakarta sebuah taman bunga langka yang memiliki luas kurang lebih dua hektar yang rusak setelah   diserbu   wisatawan,   ini   merupakan   salah   satu   contoh   nyata   perilaku wisatawan yang tidak bertanggung jawab terhadap alam. Sedikit banyak wisatawan sudah menyimpang dalam mengagumi keindahan alam.

Indonesia memiliki banyak potensi kawasan wisata yang menarik mulai dari   Sabang   hingga   Marauke.  Namun,   potensi  ini   akan  rusak     jika   tidak   ada kesadaran   untuk   pelestarian   dari   masyarakat   luas,   baik   dari   masyarakat   lokal maupun para wisatawan yang berkunjung ke tempat wisata tersebut. Selain itu, peran   pemerintah   sangat   penting   dalam   pelestarian   lingkungan   alam.   Jika pemerintah lemah dalam mengatur perilaku investor yang mengedepankan ekonomi tanpa melihat aspek lingkungan jangka panjang. Seperti pendirian hotel, restoran, fasilitas   wisata,   toko   cinderamata,   dan   bangunan   lainnya.   Seiring   dengan pembangunan tersebut jumlah wisatawan akan meningkat beserta jumlah kendaraan. Hal   ini   akan   menyebabkan   pembebasan   lahan   yang   sangat   luas.   Selain   dari bangunan-bangunan  yang  dibutuhkan   di   tempat   wisata,   lahan   parkir   juga   akan membutuhkan   lahan  yang   sangat   luas.   Untuk  itu  pemerintah   harus  melakukan manajemen pengunjung dan penataan wilayah kota atau desa serta dibantu oleh masyarakat lokal.

6) Legal
Faktor legal meliputi pengaruh hukum seperti perubahan undang-undang yang ada atau yang akan datang (Contoh : kesehatan dan keselamatan, arahan pekerjaan, hak asasi manusia, tata kelola perusahaan, dan tanggung jawab lingkungan).

Peraturan  pemerintah  tidak  dapat  diabaikan  dalam   menjalankan   sebuah

bisnis.  Peraturan   tersebut   merupakan   kebijakan   pemerintah   yang   mengatur   dan membatasi segala gerak modal, barang ataupun jasa. Salah satu contoh peraturan yang ditetapkan  pemerintah daerah tentang Industri Pariwisata  adalah   Peraturan   Pemerintah   Kota   Yogyakarta   Nomor   4 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Kepariwisataan. Dengan adanya peraturan ini diharapkan usaha pariwisata dapat mendorong iklim investasi dibidang pariwisata dengan   tetap   mengedepankan   aspek   perlindungan   terhadap   nilai-nilai   budaya,

agama, dan karakteristik kota Yogyakarta. Selain itu, dengan peraturan ini penyelenggaraan pariwisata dapat berjalan dengan  baik  dengan  mengikuti  prinsip  yang  telah ditetapkan, yaitu menjunjung tinggi   norma   agama   dan   nilai   budaya,   menjunjung   tinggi   hak   asasi   manusia, keragaman budaya, dan kearifan lokal, memberikan manfaat untuk kesejahteraan masyarakat,  memelihara  kelestarian alam  dan  perlindungan  lingkungan,  dan   hal lainnya.

Peraturan ini juga mendeskripsikan tetang usaha jasa transportasi wisata,

transportasi pariwisata yang harus berbentuk badan hukum, dan kewajibn yang harus dilakukkan sebagai usaha pariwisata. Dengan mengikuti peraturan ini pemerintah daerah   berkewajiban   dalam   penyediaan   informasi   kepariwisataan,   perlindungan hukum, keamanan, dan kenyamanan serta keselamatan wisatawan.

Dengan   adanya   peraturan  ini,   usaha  biro   perjalanan   dapat  menjadikan peraturan   ini   sebagai   pedoman   dalam   menjalankan   perusahaannya   agar   dapat menciptakan standar usaha yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan mengetahui apa saja yang menjadi kewajiban dalam menjalankan usaha biro perjalanan wisata.

 

  1. Sebutkan & Jelaskan Peluang yang terdapat dalam Industri Pariwisata
    1. Bisnis Penginapan

Ya, setiap wisatawan akan membutuhkan tempat untuk beristirahat atau menjadi homebase mereka ketika hendak berkeliling ke objek-objek wisata yang dekat. Anda tidak perlu berpikir besar dengan membangun hotel mewah dengan fasilitas yang lengkap. Mengapa? Saat ini sedang marak cara berlibur ala backpacker, yang tentu saja mereka membawa uang dalam jumlah yang terbatas. Untuk itulah penginapan dengan harga terjangkau dan fasilitas sederhana justru lebih banyak diminati. Namun jika Anda hanya memiliki rumah area di sekitar tempat wisata, bisa juga dimanfaatkan sebagai Homestay. Ini adalah sebuah model penginapan dengan menyediakan fasilitas lebih lengkap dan terkadang pemilik rumah dapat menghuni serta berbaur dengan para tamu. Maka anda memang perlu memilih dengan matang, konsep penginapan seperti apa yang akan anda tawarkan kepada para wisatawan.

2.Bisnis Interior

Bisnis ini berkaitan erat dengan peluang bisnis yang pertama. Apa yang dijual oleh pengusaha penginapan? Tentu saja tempat, jasa, dan fasilitas yang mereka sediakan untuk wisatawan. Interior ruangan yang tepat akan menghasilkan daya tawar yang tinggi bagi bisnis penginapan. Sebagai contoh, ketika anda atau ada orang lain membangun semacam penginapan di daerah lereng Gunung Merbabu yang kental dengan nuansa Jawa, apa interior yang tepat untuk memberikan nilai lebih bagi penginapan tersebut? Kalau kita bayangkan, kamar serba putih dengan lampu mewah tentu saja bukan interior yang tepat. Maka kuras kreativitas anda dengan memberikan interior yang tepat, dimulai dari bahan baku, desain, pencahayaan, suasana, dan sebagainya. Jika kultur yang dominan adalah Jawa, maka sediakan tempat air dari kendi, tempat tidur dengan hiasan ukiran, lampu listrik yang dibuat bak lampu minyak, dupa sebagai pengharum ruangan, dan sebagainya.

3.Bisnis Kuliner

Kita tentu tahu bahwa siapapun membutuhkan makanan. Dimana pun usaha kuliner selalu cocok, baik itu di kawasan industri, pertambangan, bandara maupun di pemukiman kumuh. Jadi jika ditempat-tempat demikian cocok, tentunya di daerah wisata akan lebih cocok lagi. Tetapi Anda harus menyesuaikan dengan tradisi dan budaya setempat. Tidak hanya itu, dalam konteks pariwisata kita harus mampu menyuguhkan jenis makanan yang khas dari daerah tempat wisata tersebut. Barangkali anda langsung berpikiran untuk membuat makanan khas dari suatu daerah lalu dijadikan oleh-oleh? Itu adalah ide bagus. Namun, menurut beberapa pakar bisnis, ide tersebut terlalu sederhana. Jika akses modal anda cukup besar, anda bisa bekerja sama dengan penginapan atau homestay yang ada. Buatlah sebuah konsep makan yang dengan sensasi berbeda yang dialami wisatawan, misalnya, dengan menyediakan meja makan di dekat dapur. Jadi wisatawan dapat melihat langsung bagaimana makanan tersebut diolah. Selain memberikan pengetahuan, interaksi dengan penduduk lokal semacam ini akan menjadi nilai lebih bagi para wisatawan.

4.Bisnis Penyewaan Kendaraan

Salah satu keluhan dari para wisatawan yang berlibur tanpa menggunakan jasa perusahaan perjalanan adalah transportasi. Pemerintah kita masih banyak yang belum mampu memberikan fasilitas yang baik untuk memberikan kemudahan bagi wisatawan untuk beprindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Di sisi lain, ini adalah peluang besar bagi anda. Bisnis sewa kendaraan baik itu kendaraan roda empat dan roda dua sepertinya sangat masuk akal di daerah yang dekat dengan tempat wisata. Bagaimana tidak? Akan banyak orang yang membutuhkan akses kendaraan pribadi ketika mereka sedang tidak membawa dari rumah karena terlalu jauh. Terutama untuk wisatawan asing dari luar negeri. Bisnis penyewaan kendaraan juga sangat erat kaitannya dengan bisnis traveling, dimana Anda bisa menyediakan jasa antar jemput para turis dari lokasi wisata ke hotel atau mungkin ke tempat lain.

5.Membuka Tempat parkir

Di mana kendaraan-kendaraan tersebut akan dititipkan? Tentu saja ini kebutuhan baru ketika wisatawan bisa membawa kendaraan, yaitu lahan parkir. Jika anda memiliki lahan di tempat wisata, anda bisa membangunnya sebagai lahan parkir. Hal ini sangat menguntungkan karena hanya perlu mengeluarkan biaya perawatan yang tidak besar, sedangkan uang setiap hari masuk dari kendaraan yang diparkir. Bahkan di sekeliling tempat parkir tersebut anda bisa saja bekerja sama dengan orang lain untuk membuka warung-warung kecil tempat berjualan suvenir atau makanan khas, atau bisa juga menyediakan WC umum yang harus tetap dijaga kebersihannya. Jika anda memiliki akses modal yang besar, anda bisa berinovasi dengan membangun tempat parkir yang portabel sehingga bisa memuat lebih banyak kendaraan. Namun memang, perlu kajian kekuatan yang tepat untuk memastikan kendaraan yang diparkir di sana mendapatkan posisi yang aman.

6.Bisnis Penjualan Suvenir

Suvenir adalah barang khas yang anda beli di tempat wisata. Biasanya suvenir tersebut dibeli untuk nanti diberikan kepada kerabat ketika kita sudah kembeli kepada aktivitas normal. Namun lebih daripada itu, suvenir akan mengingatkan kita bahwa kita pernah mengunjungi suatu tempat. Nah, ini adalah peluang besar yang bisa anda kembangkan. Suvenir ini bisa saja berupa gantungan kunci, dompet, kain, kaos, tas, topi, kerajinan tangan, mainan, dan masih banyak lagi barang yang bisa anda eksplor untuk digunakan sebagai suvenir. Barangkali oleh-oleh yang berupa makanan adalah pilihan yang juga menarik. Namun ingat, makanan memiliki masa kadaluarsa yang relatif lebih singkat daripada ketika anda membeli suvenir.

7.Bisnis Jasa Penerjemah dan Tour Guide

Tidak setiap warga di daerah wisata bisa berbahasa asing, minimal bahasa Inggris. Padahal seharusnya untuk memudahkan berkomunikasi dengan wisatawan asing, mereka minimal bisa berbahasa Inggris dasar untuk percakapan sehari-hari. Maka, jasa penerjemah biasanya sangat dibutuhkan oleh para wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia. Untuk banyak keperluan mereka memang sangat membutuhkan jasa penerjemah. Selain itu jasa ini juga berkaitan dengan jasa tour guide dimana tentunya para turis ingin mengetahui apa yang mereka kunjungi. Ini adalah peluang bisnis yang menggiurkan. Anda bisa berbisnis dengan membuka agen tour guide dan jasa penerjemah. Untuk itu anda pertama-tama memang harus menguasai terlebih dahulu narasi dan cerita-cerita di balik tempat wisata yang dikunjungi oleh wisatawan. Dengan menguasai informasi lebih baik, anda bisa bercerita lebih banyak kepada wisatawan, dan bisa jadi anda direkomendasikan oleh wisatawan itu kepada teman-temannya ketika kelak sudah pulang kembali ke negaranya.

8.Bisnis Jasa Fotografi/Videografi

Barangkali kini setiap orang memiliki kamera pada gadget mereka untuk mengabadikan tiap kenangan indah yang mereka lalui ketika berwisata. Namun, apakah itu lalu mematikan peluang bisnis fotografi pada daerah wisata? Nyatanya tidak, lantaran selalu ada batasan-batasan yang dimiliki oleh wisatawan untuk mengabadikan momen anda sendiri. Keterbatasan itu misalnya pada kualitas kamera supaya terlihat indah, sudut pengambilan, spot yang menarik, dan sebagainya. Dengan bermodalkan kamera digital SLR atau jenis lain dengan kualitas profesional, anda bisa menawarkan jasa sebagai fotgrafer atau videografer. Anda bisa menawarkan jasa tersebut dalam paket wisata, atau anda bisa langsung menawarkan kepada wisatawan. Jika anda fokus pada foto, upayakan anda bisa langsung mencetak hasil foto tersebut dengan kualitas yang baik.

9.Bisnis Event Organizer

Tempat wisata seringkali tidak hanya menjadi tempat berwisata saja tanpa ada agenda lain. Tak jarang orang yang mengadakan sebuah acara atau kegiatan di daerah tempat wisata baik itu pertemuan bisnis, pernikahan, reuni, launching produk dan lain-lain. Jadi jasa event organizer sepertinya cukup dibutuhkan. Anda tentu saja perlu melakukan banyak persiapan untuk membangun bisnis ini. Misalnya, pertama-tama anda perlu menyusun konsep-konsep acara yang jelas sehingga bisa anda tawarkan kepada calon klien anda. Lalu anda menjalin komunikasi dan kerjasama yang sangat baik dengan pengusaha restoran atau mereka yang memiliki tempat untuk pertemuan (hotel, penginapan, dsb.), bekerjasamalah juga dengan pengusaha suvenir yang ada di daerah tersebut. Lalu untuk menambah kehangatan budaya, ajaklah pelaku seni daerah untuk perform di jeda acara tersebut. Persiapan-persiapan yang matang ini akan membuat bisnis anda makin memiliki nilai lebih.

 

  1. Bisnis Kios dan Counter Pulsa

Sama seperti bisnis kuliner, keberadaan kios atau toko di berbagai tempat sangat dibutuhkan. Termasuk juga ditempat wisata untuk memenuhi kebutuhan para wisatawan, seperti makanan, minuman dan lain-lain. Atau alternatif lainnya adalah membuka counter penjualan pulsa untuk melayani wisatawan yang kehabisan saldo pulsa. Pastikan anda memiliki pengetahuan yang cukup untuk menjelaskan kepada wisatawan, jenis-jenis provider apa yang mendapatkan jaringan cukup bagus di tempat wisata tersebut, apa saja kekurangan dan kelebihan, dan sebagainya.

 

  1. Sebutkan & Jelaskan Ancaman yang terdapat dalam Industri Pariwisata

Dalam kegiatan di sektor pariwisata, sejumlah dampak negatif dapat muncul. Dampak-dampak negatif tersebut harus dapat diantisipasi sejak dini agar tidak menimbulkan kerugian yang bersifat jangka panjang bagi suatu destinasi pariwisata.

 

  1. Peningkatan Nilai Lokal

Ketika suatu wilayah tertentu berkembang menjadi destinasi pariwisata, maka permintaan akan produk lokal dan tanah di wilayah tersebut akan meningkat, sehingga harga akan terus meningkat. Sebagai contoh, jika pakaian tradisional di suatu daerah sangat diminati oleh wisatawan, maka peningkatan harga secara berkelanjutan akan menyebabkan penduduk setempat tidak lagi mampu membeli pakaian tradisional mereka sendiri dan mungkin harus beralih untuk memakai pakaian dengan kain yang harganya jauh lebih murah tetapi merupakan produk impor serta Pekerja lokal seringkali tidak menerima upah yang besar dengan kondisi kerja yang buruk.

 

  1. Penerimaan Devisa tidak masuk Kas Negara

Di dalam hasil penelitian the United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UNESCAP) disebutkan bahwa sebagian keuntungan yang dihasilkan dari sektor pariwisata internasional akan kembali ke negara asal wisatawan. Kebocoran devisa (leakage) dapat terjadi antara lain karena: makanan dan minuman dan peralatan yang digunakan hotel/sarana akomodasi yang harus diimpor; gaji yang dibayarkan kepada tenaga kerja asing; keuntungan yang diperoleh perusahaan asing di bidang kepariwisataan; dan sebagainya. Hasil penelitian United Nations Environmental Program (UNEP) pada tahun 2001 menunjukkan bahwa leakage dari kegiatan di sektor pariwisata mencapai angka 70% di Thailand dan 80% di wilayah Kepulauan Karibia. Jika diilustrasikan, hal tersebut berarti bahwa misalnya dari US$ 100 yang dibelanjakan oleh wisatawan, maka hanya US$ 30 yang menjadi keuntungan Thailand dan US$ 20 untuk wilayah Karibia. Sementara itu, menurut World Bank, tingkat leakage paling rendah untuk negara sedang berkembang adalah sebesar 40% di India.

  1. Pencemaran Lingkungan

Kegiatan di sektor pariwisata dapat menimbulkan pencemaran lingkungan yang serius. Sebagai contoh, sekitar 87% emisi gas rumah kaca dihasilkan oleh sektor transportasi. Walaupun belum diketahui seberapa besar kontribusi sektor transportasi udara di tingkat global terhadap volume emisi tersebut, diperkirakan jumlahnya paling besar. Sebagai contoh, di Eropa, pada tahun 2000, jumlah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari sektor transportasi udara telah mencapai angka 75% dari nilai total emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh seluruh jenis sarana transportasi yang digunakan (L.E. Preston dalam Antariksa, 2011a). Persoalan ini bersifat dilematis karena sektor transportasi udara memberikan sumbangan terbesar terhadap pergerakan wisatawan dari negara maju ke destinasi pariwisata di negara sedang berkembang (C.L. Jenkins dan B.M. Henry dalam Antariksa, 2011b). Belum lagi peningkatan jumlah wisatawan membawa masalah seperti membuang sampah sembarangan, pencemaran dan erosi jalan setapak. Semua ini membutuhkan waktu dan dana untuk membersihkan.

  1. Motif Politis

Politisasi sektor pariwisata juga dapat terjadi dalam hal-hal tertentu. Pada umumnya pemerintah di negara maju memiliki posisi tawar (bargaining position) yang sangat tinggi dibandingkan negara sedang berkembang dalam hal penetapan kebijakan lalu lintas warga negaranya ke luar negeri. Sebagai contoh, travel warning/advisory  tidak hanya diberlakukan karena alasan-alasan konvensional (bencana alam, persoalan kesehatan dan keamanan), tetapi juga untuk mengakomodasi protes yang dilakukan oleh publik dan bahkan untuk keperluan embargo ekonomi. Dengan demikian, kebijakan tersebut secara terselubung mengandung kepentingan: “…to control where citizens visit and where their money is spent” (D.J. Timothy dan G.P. Nyaupane dalam Antariksa, 2011b: 5). Di samping itu, pariwisata dapat menciptakan ketergantungan negara sedang berkembang yang semakin dalam terhadap negara maju. Martin Mowforth dan Ian Munt (1998) mengatakan bahwa: “…it is people from the First World who make up the significant bulk of international tourists and it is they who have the resources to make relatively expensive journeys for pleasure, a clear example of inequality”. Bahkan, seorang penulis mengatakan bahwa pariwisata adalah: “’a neo-colonial extension of economic forms of underdevelopment’ that reproduces historical patterns of structural inequalities between developed and developing countries (Britton 1980: 149)”.

 

  1. Benturan Sosial Budaya

Sektor pariwisata dapat menimbulkan benturan ditinjau dari aspek sosial budaya. Sebagai contoh, M.L. Narasaiah (2004) menyatakan bahwa:

“…the environment and natural beauty may be harmed by infrastructure and hotel buildings; the intrusion of large numbers of foreigners with little knowledge and respect for the local culture and tradition may cause social tensions; there may be an upsurge of prostitution and sex-related diseases; and the local economy may be disrupted because labor is siphoned off from farming of the tourism sector,…”

Budaya lokal bisa mendevaluasi oleh pariwisata. Mereka mungkin hampir menjadi pertunjukan orang aneh, di mana pengunjung mulai melihat ke bawah pada penduduk setempat sebagai yang berbeda. Selain itu adakala wisatawan asing memanfaatkan kelonggaran imigrasi untuk menyelundupkan narkoba dan menjualnya di tempat wisata .

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.