MENGUNJUNGI Kota Banda Neira, Maluku, Anda seakan-akan diajak untuk merasakan suasana zaman kolonial dan kekayaan tanah Maluku. Benteng Belgica berdiri kokoh dengan angkuhnya, sekokoh lamanya penjajah bercokol di bumi Maluku yang tujuannya tak lain menguasai pasar rempah-rempah untuk dijual di pasar Eropa.

Setelah puas berkeliling di Banda Neira, banyak pilihan yang bisa dijadikan alternatif bagi wisatawan menghabiskan liburan. Ada Pulau Hatta, Pulau Ai untuk Anda yang suka diving atau menyelam. Atau Anda tertarik mendaki gunung, terdapat Gunung Api tak jauh dari Pulau Neira.

Menunggu penerbangan Merpati Nusantara Airlines rute Banda Neira-Ambon yang terbang tiga kali seminggu, maka waktu yang tersisa di Banda Neira, Minggu (5/5/2013), saya manfaatkan bersama Akhmad Zulfikri, Humas Merpati Nusantara Airlines untuk menyeberang ke Pulau Banda  Besar.

“Di Pulau Banda Besar, ada benteng, sumur suci dan kebun pala. Pantai juga ada,” kata Bahri, pemilik Delfika Guest House kepada Kompas.com, di penginapannya, Sabtu (4/5/2013) sore.

Fikri pun langsung tertarik mendengar penuturan Bahri. “Kalau begitu, besok saja kita ke Banda Besar,” katanya.

Bahri melanjutkan, untuk menuju Desa Lonthor di Pulau Banda Besar sangat mudah, ada perahu yang bisa mengantarkan pengunjung ke pulau tersebut. Dermaganya pun tak jauh dari Delfika Guest House, yakni di belakang pasar Banda Neira.

Lantas, Minggu (5/5/2013) siang, saya dan Fikri berjalan kaki dari penginapan Delfika menuju dermaga perahu yang akan menyeberangkan kami ke Pulau Banda Besar. Tak terlalu sulit mencari dermaga tersebut, hanya berjalan kaki sekitar 500 meter dari penginapan milik Bahri yang letaknya persis di depan Rumah Budaya Banda Neira itu.

Sampai di dermaga, perahu yang datang dan pergi selalu dipenuhi warga kedua pulau. Inilah satu-satunya alat transportasi bagi warga Pulau Banda Besar dan Pulau Neira. Tarif menyeberang dari Pulau Neira ke Pulau Banda Besar hanya Rp 4.000 per orang. Namun siang itu, perahu yang menuju Lonthor sudah jalan, terpaksa menunggu perahu berikutnya.

Ada satu perahu yang kosong. Terlihat pemilik perahu sedang menaikkan dua karung  beras ke dalam perahu. Sekitar 10 orang bisa dimuat di perahu tersebut. Matahari pun makin beranjak tinggi. Panasnya makin menggigit kulit.

“Ke Lonthor pak?” tanya Fikri.
“Ya,” jawab si pemilik perahu singkat.
“Jalan sekarang?” kata Fikri lagi.
“Tunggu (penumpang) penuh dulu pak,” jawabnya.
“Kalau carter berapa?” tanya Fikri dengan wajah yang mulai berkeringat.
“(Rp) 70.000,” jawabnya enteng.
“Bisa turun (tarif) lagi pak?” tanya Fikri.
“Tarifnya memang segitu,” jawabnya cuek.
“Oke lah, yuk kita jalan,” kata Fikri sambil memasuki perahu.

8755162205_ce6b962857_z

Mengabadikan obyek menarik di Pulau Banda Besar, Maluku. 

Pemilik perahu lantas mulai melepaskan tali kapal yang terikat di dermaga. Selanjutnya mesin perahu dihidupkan dan perlahan-lahan perahu melaju menuju Lonthor.

Cuaca siang itu sangat bersahabat, Pulau Banda Besar terlihat jelas di depan mata. Pemilik perahu ini pun mulai terbuka. Namanya Harto dan lahir di Aceh. Dahulu, orangtuanya berdinas di TNI dan selalu berpindah-pindah tugas hingga sampailah Harto di Banda dan mencari nafkah sebagai pemilik perahu di Banda Neira.

Pria murah senyum dengan kulit hitam legam akibat sengatan sinar matahari itu pun mulai bercerita mengenai perkembangan Banda Neira dan suka dukanya menjalani profesi mengantarkan penduduk menyeberang antar-pulau tersebut. “Nyeberang ke Lonthor paling cuma 15 menit. Kecepatan seperti ini (laju perahu tak terlalu cepat). Itu Lonthor,” kata Harto sambil menunjuk dermaga yang semakin lama makin jelas terlihat. Sementara di sebelah kanan menjulang Gunung Api.

Tak berapa lama kemudian perahu tiba di dermaga Lonthor. Laut begitu jernih, karang-karang pun terlihat jelas. Ikan-ikan berwarna-warni meliuk-liuk di antara karang yang masih terawat baik.

8755189793_dff7987ff4_z

Sumur suci di Lonthor, Pulau Banda Besar.

Kami pun menjejakkan kaki di pasir putih Pulau Banda Besar.

“Kalau keliling lebih baik naik ojek,” kata Harto mengusulkan cara cepat mengunjungi sumur suci, kebun pala dan Benteng Hollandia.

“Boleh juga pak. Tuh ada tukang ojek,” kata Fikri.

Kami melihat dua pemuda dan dua motor parkir di ujung dermaga. Keduanya terlihat sedang berteduh. Harto langsung mendekati kedua pemuda itu dan mengatakan agar membawa kami dengan sepeda motor mengunjungi ketiga tempat tersebut. Setelah tawar menawar, akhirnya disepakati sewa ojek Rp 25.000 per orang.

“Bapak keliling. Saya tunggu di sini (dermaga),” kata Harto sambil tersenyum.

Melajulah saya dan Fikri menggunakan ojek menuju sumur suci atau sumur tua yang ada di Desa Lonthor. Letak sumur tersebut di ketinggian sekitar 100 meter di atas permukaan laut dan memiliki kedalaman 4 meter. Ada dua sumur dan letaknya berdampingan. Dasar sumur berhubungan satu sama lain. Satu sumur dikeramatkan dan satu sumur lagi seperti biasa digunakan warga setempat sehari-hari untuk sumber air minum. Meskipun musim kemarau, sumur tersebut tak pernah kering. Mereka yang meminum air dari sumur itu diyakini akan berumur panjang dan terhindar dari segala jenis penyakit.

Fikri kemudian menimba air tersebut dan meminumnya setelah itu mencuci wajahnya, “Ternyata airnya segar saat diminum,” kata Fikri.

 

Di sumur inilah dilakukan upacara adat yakni cuci parigi yang digelar setiap lima tahun sekali. Tujuan utamanya adalah membersihkan dua sumur tersebut. Bagi penduduk asli di Kepulauan Banda, cuci parigi merupakan tradisi penting. Wajar banyak dari mereka rela memilih pulang kampung untuk menghadiri acara tersebut. Biasanya acara cuci parigi berlangsung antara bulan Agustus sampai November. Cuci parigi ini merupakan acara adat yang selalu dipenuhi mereka yang mengaku penduduk Banda. Acara ritualnya ini selalu dinanti-nantikan oleh wisatawan dalam maupun luar negeri.

Usai mendatangi sumur suci, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Benteng Hollandia. Di pikiran saya terbayang benteng yang akan kami kunjungi ini masih berdiri tegak dan berada di atas bukit, ditambah pemandangan ke arah Gunung Api dan Pulau Neira.

Namun, kenyataannya ketika kami sampai di sana, tidak ada benteng utuh yang berdiri. Yang ada hanyalah sisa-sisa reruntuhan benteng yang hampir rata dengan tanah. Yang tersisa hanyalah pintu benteng yang menghadap Gunung Api dan nama Hollandia.

Memang, dari depan Benteng Hollandia ini pemandangan Gunung Api sungguh indah. Dari penelusuran buku sejarah diketahui, tatkala Peter Vleck mengubah bekas benteng peninggalan Portugis itu pada tahun 1624 dan menamakannya Hollandia, pikirannya cuma satu yakni membangun benteng yang megah. Dari benteng ini pula, Belanda bisa melihat kapal-kapal lawan yang hilir mudik. Saat itu, dari benteng ini penguasa bisa mengawasi kerja para budak-budak mereka di kebun pala. Pala merupakan produk yang bernilai jual tinggi kala itu di pasar Eropa.

Belanda belum menyadari, ketika Gunung Api memuntahkan kemarahannya pada tahun 1743, maka seketika meluluhlantakkan Benteng Hollandia sehingga nyaris rata dengan tanah. Francois van Boeckholtz, penguasa Belanda berikutnya datang ke Lonthor. Dia memperbaiki Benteng Hollandia pada 1796. Namun perbaikan yang dilakukan selama bertahun-tahun tak banyak bermanfaat. Secara perlahan-lahan bangunan seluas 1.500 meter persegi itu pun mulai meredup dan hanya menyisakan puing kebesaran. Ketika kami datang, bangunan liar tumbuh lebat di luar dan di dalam benteng. Pohon pala tumbuh subur di depan benteng. Sisa-sisa kejayaan masa lalu itu kini hanya tinggal puing dan kenangan.

Perjalanan kami lanjutkan menuju perkebunan pala dan kenari di Pulau Banda Besar. Di pulau ini, pohon pala dan kenari tumbuh subur. Bahkan ada pohon kenari yang sudah berusia ratusan tahun. Kenari oleh penduduk setempat diproses menjadi makanan atau kue khas Banda dan Maluku umumnya yang dicari wisatawan sebagai oleh-oleh.

Sedangkan pala dari Banda ini pada zaman kolonial diangkut ke Eropa untuk dijual dengan harga tinggi. Gara-gara pala, Belanda dengan VOC-nya meraup untung besar pada masa itu. Sementara penduduk Banda tetap miskin dan tak bisa memperoleh apa-apa dari “harta” yang mereka miliki. Semua hasil pala Banda dibawa Belanda ke Eropa.

Matahari pun makin condong ke barat. Tiga tempat sudah kami kunjungi di Desa Lonthor. Akhirnya kami memutuskan kembali ke dermaga. Dari kejauhan, terlihat Harto dengan setia menunggu. Tak sampai 1,5 jam kami mengunjungi ketiga tempat tersebut dengan ojek. Setelah kami memasuki perahu, Harto langsung melepaskan tali kapal dan menghidupkan mesin perahu dan mengarahkan perahu ke Banda Neira.

8756335694_8e864c4cee_z

Desa Lonthor di Pulau Banda Besar dengan panorama Gunung Api.

“Pak, sebelum balik ke Banda Neira, kita putari Gunung Api, bisa?” tanya Fikri.
“Bisa,” kata Harto bersemangat.
“Berapa lama mengelilingi Gunung Api,” tanya Fikri lagi.
“Sekitar setengah jam,” jawab Harto.
“Ayo pak, kita kelilingi Gunung Api. Nanti (bayaran) saya tambah,” kata Fikri.

Harto pun tersenyum. Selanjutnya perahu pun dengan kecepatan sedang melaju mengelilingi Gunung Api sebelum akhirnya mengantarkan kami merapat di dermaga Banda Neira. Kami mengucapkan terima kasih kepada Harto dan dia pun mengucapkan hal yang sama dan selamat jalan. Matahari pun mulai condong ke ufuk barat…

http://travel.kompas.com/read/2013/05/20/09393994/Lonthor..Menyisakan.Benteng..dan.Pala

Advertisements

About terbang ke bulan

a travel site dedicated for traveler & for GOD to create this beautiful earth

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s